Ber-Kebun Emas
Bisikan Ramadhan di hari ketujuh
Tidak terasa sudah seminggu pertama dilalui, mudah-mudahan diberi peluang untuk mencapai akhir, karena amal/pekerjaan bukan hanya dilihat di akhir, tetapi juga di awal, di pertengahan dan di akhir. Karena itulah letak profesionalitas kerja, memulai dengan yang baik, melakukan yang terbaik dan mengakhiri dengan baik juga.
Ada sedikit cerita di awal minggu ini...inilah untuk pertama kalinya saya menggunakan perhiasan yang saya miliki dengan fungsinya yang lain.,,,ah bahasa mudahnya digadaikan, Bener tidak pernah sebelumnya, paling kalau saya bosan, saya jual dan ganti yang lain. Satu hal yang selalu saya lakukan adalah berhemat dan segera menginvestasikan berapapun uang yang saya peroleh dalam bentuk emas. Emas adalah nilai tukar yang stabil, dan dalam jangka panjang akan menjadi pilihan investasi terbaik. Terutama untuk mereka yang memilih menukarkan uangnya untuk dikonversikan dalam emas. Dan yang penting, kalau sudah jadi emas, tidak dipakai untuk hal yang tidak penting. Karena kalau sudah jadi emas, masa mau beli sepatu aja jual emas dulu.
Sebelum ini, saya membeli emas dalam bentuk perhiasan, yang akhirnya membuat saya harus sibuk menyimpan, memakai, melepas dan merawatnya. dan setelah semakin banyak, yah karena menjual emas adalah pilihan terakhir, sebisa mungkin bertambah, atau ditukar dengan yang lebih ringan, tetapi tetap harus memiliki. hehehe sampai anak-anak pun hafal, mereka kalau minta sesuatu yang saya pikir kurang penting dan harganya mahal, saya bilang, mending dibelikan emas yah...Bisa disimpan, bisa dijual lagi kalau perlu. Nah mereka sekarang jadi biasa, mending beli emas yah Bun...wehehehe
Nah prinsip menabung sedikit sedikit lama-lama menjadi bukit emas toh, karena udah banyak, khan ga mungkin dipakai semua...saya mulai bosan memilih perhiasan dan beralih ke Dinar dan LM. Lebih mudah disimpan dan tidak ada ongkos tambahan untuk membuat perhiasan.
Kembali ke pengalaman pertama saya menggadaikan emas. Sudah terpikir sebelumnya, buat apa yah emas ini selain disimpan untuk investasi. Karena pertambahan nilainya pasti tidak sebesar jika dipakai sebagai modal usaha (janji ga bangkrut aja yaahhh). teringat SMS dari salah satu bank syariah yang menawarkan satu layanan baru, yaitu gadai emas. Sms nya sudah beberapa hari yang lalu. Segera cari info di internet, dan menemukan artikel tentang kebun emas, selain info tentang gadai emas di bank. Pernah dengar kebun emas? secara sederhana adalah menggadaikan emas dan membeli emas dengan uang hasil menggadaikan tadi, yang kemudian digadaikan lagi untuk menebus gadai yang pertama. pada akhir periode "perawatan emas" kita membayar biaya perawatan dan dengan menebus emas yang digadai pertama kali dengan uang hasil gadai emas yang berikutnya dan digadaikan kembali untuk membeli emas yang kedua kali..Sepertinya menarik yah. Saya ga bikin hitung-hitungannya disini. kalau berminat yang cari sendiri, banyak beredar eBooknya. Yang menurut saya hampir tidak ada gunanya, Wong ilmu gitu aja koq di eBook an. Dan akhirnya menjadi reseller.
Saya tidak tertarik mencobanya, karena tujuan saya menggadaikan emas saat ini untuk mendapatkan modal. Yang jika saya putar kembali, bisa menebus emas yang saya gadaikan. daripada ribet urusan kredit, yang perlu banyak dokumen. Nah setelah datang ke bank tersebut dan selesai menyekolahkan perhiasan saya, si mbak CSO bertanya, mau ikutan kebun emas yah? dan akhirnya saya jadi tertarik dan banyak bertanya. Si mbak menjelaskan, untuk ber"kebun emas" sebaiknya dengan jumlah yang kecil saja. Sekitar 10 gram, untuk meminimalkan biaya. Oh ya biaya biayanya adalah biaya administrasi dan premi asuransi yang dibayar di awal berikut perhiasan yang diserahkan. Pada akhir periode, dikenakan biaya perawatan yang besarnya sekitar Rp.5.500 per bulan per gram.
Saya belum coba teknik kebun emas ini, tapi mungkin akan coba, tapi mungkin juga tidak. Yang jelas, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit emas itu betul. dan walau ada biaya, tapi menggadaikan dengan tujuan bukan konsumtif tetap menguntungkan. Tapi kalau anda beli ebooknya, saya pikir tidak ada gunanya.
Salam BundaPreneur


READ MORE - Ber-Kebun Emas
Tidak terasa sudah seminggu pertama dilalui, mudah-mudahan diberi peluang untuk mencapai akhir, karena amal/pekerjaan bukan hanya dilihat di akhir, tetapi juga di awal, di pertengahan dan di akhir. Karena itulah letak profesionalitas kerja, memulai dengan yang baik, melakukan yang terbaik dan mengakhiri dengan baik juga.
Ada sedikit cerita di awal minggu ini...inilah untuk pertama kalinya saya menggunakan perhiasan yang saya miliki dengan fungsinya yang lain.,,,ah bahasa mudahnya digadaikan, Bener tidak pernah sebelumnya, paling kalau saya bosan, saya jual dan ganti yang lain. Satu hal yang selalu saya lakukan adalah berhemat dan segera menginvestasikan berapapun uang yang saya peroleh dalam bentuk emas. Emas adalah nilai tukar yang stabil, dan dalam jangka panjang akan menjadi pilihan investasi terbaik. Terutama untuk mereka yang memilih menukarkan uangnya untuk dikonversikan dalam emas. Dan yang penting, kalau sudah jadi emas, tidak dipakai untuk hal yang tidak penting. Karena kalau sudah jadi emas, masa mau beli sepatu aja jual emas dulu. Sebelum ini, saya membeli emas dalam bentuk perhiasan, yang akhirnya membuat saya harus sibuk menyimpan, memakai, melepas dan merawatnya. dan setelah semakin banyak, yah karena menjual emas adalah pilihan terakhir, sebisa mungkin bertambah, atau ditukar dengan yang lebih ringan, tetapi tetap harus memiliki. hehehe sampai anak-anak pun hafal, mereka kalau minta sesuatu yang saya pikir kurang penting dan harganya mahal, saya bilang, mending dibelikan emas yah...Bisa disimpan, bisa dijual lagi kalau perlu. Nah mereka sekarang jadi biasa, mending beli emas yah Bun...wehehehe
Nah prinsip menabung sedikit sedikit lama-lama menjadi bukit emas toh, karena udah banyak, khan ga mungkin dipakai semua...saya mulai bosan memilih perhiasan dan beralih ke Dinar dan LM. Lebih mudah disimpan dan tidak ada ongkos tambahan untuk membuat perhiasan.
Kembali ke pengalaman pertama saya menggadaikan emas. Sudah terpikir sebelumnya, buat apa yah emas ini selain disimpan untuk investasi. Karena pertambahan nilainya pasti tidak sebesar jika dipakai sebagai modal usaha (janji ga bangkrut aja yaahhh). teringat SMS dari salah satu bank syariah yang menawarkan satu layanan baru, yaitu gadai emas. Sms nya sudah beberapa hari yang lalu. Segera cari info di internet, dan menemukan artikel tentang kebun emas, selain info tentang gadai emas di bank. Pernah dengar kebun emas? secara sederhana adalah menggadaikan emas dan membeli emas dengan uang hasil menggadaikan tadi, yang kemudian digadaikan lagi untuk menebus gadai yang pertama. pada akhir periode "perawatan emas" kita membayar biaya perawatan dan dengan menebus emas yang digadai pertama kali dengan uang hasil gadai emas yang berikutnya dan digadaikan kembali untuk membeli emas yang kedua kali..Sepertinya menarik yah. Saya ga bikin hitung-hitungannya disini. kalau berminat yang cari sendiri, banyak beredar eBooknya. Yang menurut saya hampir tidak ada gunanya, Wong ilmu gitu aja koq di eBook an. Dan akhirnya menjadi reseller.
Saya tidak tertarik mencobanya, karena tujuan saya menggadaikan emas saat ini untuk mendapatkan modal. Yang jika saya putar kembali, bisa menebus emas yang saya gadaikan. daripada ribet urusan kredit, yang perlu banyak dokumen. Nah setelah datang ke bank tersebut dan selesai menyekolahkan perhiasan saya, si mbak CSO bertanya, mau ikutan kebun emas yah? dan akhirnya saya jadi tertarik dan banyak bertanya. Si mbak menjelaskan, untuk ber"kebun emas" sebaiknya dengan jumlah yang kecil saja. Sekitar 10 gram, untuk meminimalkan biaya. Oh ya biaya biayanya adalah biaya administrasi dan premi asuransi yang dibayar di awal berikut perhiasan yang diserahkan. Pada akhir periode, dikenakan biaya perawatan yang besarnya sekitar Rp.5.500 per bulan per gram.
Saya belum coba teknik kebun emas ini, tapi mungkin akan coba, tapi mungkin juga tidak. Yang jelas, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit emas itu betul. dan walau ada biaya, tapi menggadaikan dengan tujuan bukan konsumtif tetap menguntungkan. Tapi kalau anda beli ebooknya, saya pikir tidak ada gunanya.
Salam BundaPreneur
















